I want to break free

Kerangkeng sudah hancur berantakan.. tercerai..

Kalaupun kerangkeng itu dulu rumah, tak mungkin lagi aku kembali padanya.. karena lebur sudah beradu api pembebasan..

Hanya tersisa rantai di tangan yang kupukul berulang, 

Sebentar lagi putus.. sebentar lagi bebas..

Advertisements

Dance With The Devil

Hari itu iblis bertanya :

“Maukah kau menari denganku? Mengelilingi api yang membakar gairah?”

Setelah diam sejenak iblis kembali berkata :

“Tidakkah engkau resah kawan? Tidakkah engkau merasa seluruh nafsu yang terkungkung meronta di dalam dadamu? Tidakkah kau rasakan angkara yang merambat dari dada ke pundak lalu ke tengkuk kemudian leher lalu menegangkan urat pelipis di samping kepalamu? Tidak kah kau merasakan sakitnya bahumu menahan gejolaknya? Nafsumu adalah pemenuh kebutuhanmu. Hanya dengan mengikutinya engkau akan bisa bernafas lega. Bagaimana bisa engkau menjadi orang baik yang sepenuh hati beribadah jika segalanya memberontak?”

Iblis terdiam lagi, kali ini matanya yang kemerah-merahan menyapu seluruh tubuhku. Setiap jengkal pandangannya bergeser ada rasa merinding yang kurasakan. Lalu ia kembali berucap :

“Apa yang engkau tunggu wahai anak manusia? Masih engkau percaya bualan orang-orang itu tentang kebaikan? Apakah engkau tidak pernah menyadari bahwa kehadiranku bukan untuk menipu? Aku adalah pengacaramu; yang akan membenarkan setiap doronganmu. Akulah penjaja pembenaran di kala engkau kehabisan alasan”.

to be continued….

Menjaga Percikan di Ramadhan

Di bulan yang lalu, meletupnya api adalah kegagalan diri..

Di bulan ini, percikan sudah menjadi kegagalan..

 

Pernah marah?

Pernah mau marah?

Pernah akan mau marah?

 

Ketika puasamu dan jiwamu didudukkan oleh-Nya berdua, mengertikah bahwa percikan kecil pun artinya gagal?

Sungguh aku selalu merindukan bulan ini,

Bulan yang membelenggu dunia,

Bulan yang menghadirkan jati diri manusia sejati.

 

Ya.. Saat percikan itu engkau kendalikan.. maka engkau manusia.

Selokan Pun Menjadi Guru

Images

Di dekat rumah saya yang lama, ada sebuah got besar atau sungai kecil atau entahlah. Yang jelas baunya itu sungguh luar biasa.  Sepertinya produksi amonia mandiri maupun sumbangan sukarela dari warga dan hewan sekitar telah sukses membuat setiap orang yang lewat untuk pertama kalinya bertransformasi.  Cuping hidung mengembang, mata membelalak, degup jantung bertambah, tangan bergerak menutup hidung, tekanan darah meningkat, warna kulit memucat, dan keseimbangan tubuh mengalami penurunan yang drastis.  

 

Mungkin pengalaman setiap orang bisa berbeda, tapi itulah yang pertama kalinya saya rasakan. Pertama kali.. hanya pertama kali.  Pengalaman kedua, ketiga, dan selanjutnya tidak sedahsyat pengalaman pertama.  Bahkan setelah lewat yang kelima kalinya secara ajaib bau itu lenyap, rasanya biasa saja.  Saya malahan berpikir, jangan-jangan memang sudah tidak bau lagi.  Hingga tiba suatu saat saya harus pindah rumah ke tempat yang menurut saya lebih baik, saya tidak pernah lewat di daerah yang berbau tadi.  Namun kemarin saya ada urusan yang harus diselesaikan di dekat rumah lama saya, dan ternyataaaaaa… saya harus mengulang seluruh pengalaman pertama saya.

 

Tiba-tiba saya seakan dibisiki …

Beginilah hidup sesungguhnya.  Kebaikan dan keburukan begitu terserabutnya di alam ini.   Tidak seperti papan catur yang jelas mana hitam dan putih, dunia ini kadang-kadang memaksa kita untuk menerima warna abu-abu.  Jika kita terpaksanya harus mengenal dan melakukan sesuatu yang buruk, maka efeknya akan seperti pertama kali saya melewati got yang baunya busuk tadi.  Namun jika perbuatan itu kita ulang dan ulang secara terus menerus, maka intensitasnya akan semakin berkurang dan berkurang hingga akhirnya hilang.   Kita pun lupa bahwa yang kita lakukan itu buruk.

 

Anak, BNIB, Garansi Seumur Hidup.

<!–

@page { margin: 0.79in }

P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Anak-anak datang dengan full-warranty dari Tuhan. Dia menjamin bahwa anak itu akan sayang kepada orang tuanya, memelihara mereka di usia senja, menjadi anak yang berbakti, dan seterusnya.

Lalu kenapa banyak yang nggak gitu ya? Sederhana saja, warranty comes with terms and conditions. Jika salah satu tidak terpenuhi, jangan coba-coba klaim karena statusnya sudah void alias tidak berlaku lagi.

Apakah syarat dan ketentuannya itu? Sederhana juga, jadilah orang tua.

Orang tua bukan sekedar pemberi makan yang harus sibuk mencari sesuap nasi untuk anak.

Orang tua bukan sekedar pemberi uang yang harus selalu sibuk mencari uang.

Orang tua bukan sekedar perawat anak yang memenuhi kebutuhan anak untuk ganti pakaian, mandi, tidur, dan lain-lain.

Jangan sampai anak mendapatkan semuanya kecuali orang tua mereka.

Seperti dalam rahim ibunya, mereka butuh ikatan emosional, komunikasi yang baik, kasih sayang, dan pengasuhan dari orang tuanya.

Jadi jangan selalu mengeluh jika anak tidak seperti yang diharapkan, jangan-jangan kita sebagai orang tua pun tidak seperti yang mereka harapkan.

Tentunya anak juga memiliki kewajiban yang harus dipenuhi kepada kedua orang tuanya, dan jika mampu wajib untuk memenuhinya.

Einstein dan Kesadaran Spiritualnya

A human being is part of the whole called by us universe, a part limited
in time and space. We experience ourselves, our thoughts and feelings as
something separate from the rest. A kind of optical delusion of
consciousness. This delusion is a kind of prison for us, restricting us
to our personal desires and to affection for a few persons nearest to
us. Our task must be to free ourselves from the prison by widening our
circle of compassion to embrace all living creatures and the whole of
nature in its beauty. The true value of a human being is determined by
the measure and the sense in which they have obtained liberation from
the self. We shall require a substantially new manner of thinking if
humanity is to survive.

Pembalap Dan Kehidupan

Hidup itu seperti balapan.   Apapun yang terjadi balapan musti jalan dan sang pembalap harus sampe ke garis finish.   Kadang di tengah-tengah semangat berpacu gatal-gatal menyerang sang pembalap.  Apakah sang pembalap harus berhenti sekedar garuk-garuk?  

Go finish your race.. Garuk-garuk bisa nanti lagi.

Cerita Sang Pemimpi

…………. Berjalanlah, lalu temukan untuk apa kita diciptakan, dan semoga Tuhan akan membukakan tabir-Nya lalu menunjukkan makna sejati kehidupan. Amin…………

 

The_dolphin3

Pernahkah anda merasa terperangkap dalam hidup?    Pernahkah seolah-olah anda terjerat dalam siklus yang hadir dalam ruang dan waktu?  Pernahkah anda merasa kehidupan telah menghisap anda sehingga rasa bahwa kita itu hidup pun ikut menghilang dalam rutinitas, atau bahkan rutinitas itu sudah menjadi kehidupan bagi manusia.   Siklus harian seakan menjadi titah yang tak bisa dibantah.  Bangun tidur, mandi, sarapan, bekerja mencari nafkah, pulang, bersosialisasi, kadang diselingi ritual-ritual berdoa bagi yang menjalankannya dalam berbagai keyakinan, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang sudah menjadi putaran rutinitas.   Seperti itulah hidup diajarkan kepada kita, seperti itulah hidup yang kita jalani.  

Kita tidak mengenal rutinitas ini saat masih kecil bukan? Masa kecil kita penuh dengan mimpi, masa kecil kita penuh dengan pertanyaan, masa kecil kita penuh dengan pengharapan hingga tiba saatnya rutinitas datang menjemput dan kita pun kehilangan mimpi, pertanyaan, dan bahkan kehilangan arti kehidupan.

Beberapa waktu yang lalu saya dan anak-anak menonton sebuah film kartun yang berjudul “The Dolphin: Story of a Dreamer”.1   Walau animasinya tidak sehebat film-film animasi ala Pixar namun film itu telah mengingatkan kembali pada pertanyaan saya “Tuhan, untuk apa saya diciptakan?”.   Dengan banyaknya tuntutan-tuntutan, kita telah melupakan keinginan dan mimpi kita.   Kita larut dalam insting purba untuk survive.    Survival yang tadinya hanya sebatas tujuan antara, kini berubah statusnya menjadi tujuan utama, dan kita pun larut dalam pusarannya.

Daniel Alexander Dolphin adalah seekor anak lumba-lumba yang mendapat secercah kesadaran dari yang Maha Kuasa.   Dia menolak untuk larut dalam siklus survival seperti lumba-lumba lain yang merasa cukup untuk hidup dalam laguna yang aman.   Dia merasa jenuh dengan rutinitas komunitas lumba-lumba yang menghabiskan hari-hari dengan mencari dan menumpuk ikan padahal persediaan makanan mereka sudah lebih dari cukup.   Dia penat dengan jadwal tidur yang harus ditepati, larangan untuk melompati tembok karang dan menyebrang ke laut bebas, dan peraturan-peraturan lain yang sudah menjadi norma hidup bagi mayoritas lumba-lumba.    Daniel memiliki sebuah mimpi, mimpi untuk berselancar di sebuah ombak yang tinggi.   Bagi dirinya mimpi itu adalah tujuan hidupnya, mimpi itu adalah sebuah arti yang menjelaskan untuk apa dirinya lahir ke dunia.   Dan diapun memutuskan untuk meninggalkan laguna demi mengejar mimpinya.

 

 “… someone who listen to the voice of his heart, instead of the voice of the crowds…”

 

Dia rela untuk dibuang dari komunitas demi mengejar mimpinya, demi mencari makna sejati kehidupan, demi menuntaskan dharmanya di dunia.

Dalam pencariannya, Daniel menemukan berbagai macam peristiwa yang menjadi cobaan sekaligus petunjuk bagi perjalanannya, saya tidak akan bahas peristiwa-peristiwa itu saat ini.   Mungkin di lain kesempatan akan dibahas di tulisan yang lain.

Garis besar perjalanan Daniel adalah gambaran kehidupan manusia di dunia.   Manusia hadir dalam bentuk yang suci waktu masih bayi.   Di dalam diri-diri yang suci ini terkandung sebuah tugas a harus dipenuhi dalam kehidupan, sebuah peranan, sebuah dharma.   Namun dengan hingar-bingarnya alam kehidupan, manusia melupakan ini semua hingga banyak yang menutup mata di akhir hayatnya tanpa sempat mengetahui makna sejati dari kehidupan.   Sungguh kita dalam keadaan yang merugi jika hidup dalam kehidupan yang hanya merupakan sebuah rantai survival yang sambung-menyambung. 

Don’t get so caught up in surviving, that you forget to live! –Brent Atwater-2

  Tanpa kita sadari, kehidupan telah mengubah kita menjadi zombie.   Kita tidak lebih dari sebuah robot yang mengabdi pada jasad kita sendiri.   Kita bekerja demi kelangsungan hidup kita, kita menjaga citra diri di depan orang supaya terlihat bagus, dan kita mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang supaya aman.   Dengan begitu, kita semakin jauh dari diri sejati kita.   Bahkan boleh dibilang, kita sudah tidak mengenal diri kita sendiri.

  Berjalanlah, lalu temukan untuk apa kita diciptakan, dan semoga Tuhan akan membukakan tabir-Nya lalu menunjukkan makna sejati kehidupan. Amin.

 

 

Catatan:

1.             The Dolphin: Story of a Dreamer, adalah sebuah film animasi yang diangkat dari novel karangan Sergio Bambaren.   Website Sergio Bambaren dapat dilihat pada alamat http://www.sergiobambaren.com/

2.             Brent Atwater adalah seorang penulis, seniman, sekaligus pelopor metode penyembuhan alternatif yang telah menulis berbagai macam buku serta menggagas beberapa metode penyembuhan bagi penyakit-penyakit seperti kanker.   Profil dari Brent Atwater dapat dilihat di http://ezinearticles.com/?expert=Brent_Atwater

 

 

Tagged ,

Introspeksi

A : aku nggak suka sama orang yang kalo makan ngunyahnya bunyi.

B: (tertawa)

A: Lho jangan ketawa, ya kamu itu yang ngunyahnya bunyi.

B: wah, justru aku ketawa karena kamu ngomong gitu sementara kamu sendiri ngunyahnya bunyi.

Tagged