Category Archives: Uncategorized

Ramadhan

Hanya satu-satunya masa dimana setan dibelenggu dan manusia dibiarkan berperang dengan dirinya sendiri. Masa dimana saya jadi ragu “is it the devil or my very self should I fear most?”.
Selamat bertarung di minggu penghabisan.

View on Path

Advertisements

Terima Kasih Tuhan

Naik angkot pagi-pagi sama pak supir taksi yg baru pulang kerja. Sempet ngobrol dan dengan wajahnya yg cerah bercerita jika hari ini beruntung bisa membawa pulang uang sejumlah Rp. 200.000,- ke rumah untuk menyambung nafkah. Mungkin banyak dari kita yg jika dihitung-hitung bisa bawa duit jauh lebih banyak dari dia per harinya tanpa harus membelah jalanan ibukota. Jangan lupa bersyukur di tengah-tengah pengharapan. Mungkin gaji belum pernah naik selama bertahun-tahun, mungkin ada kalanya yg dibayarkan nggak sesuai dengan tanggungjawab yg dibebankan. Tapi sambil berdoa boleh dong bersyukur.

View on Path

Ignorance

Sering kan liat tempat sampah di abuse sedemikian rupa?
Padahal udah pada tau kali ya itu tempat sampahnya yang di bagian bawah. Yang bagian atas adalah tempat matiin puntung rokok.
Dari yang seperti ini aja kita harus mulai pada introspeksi diri. Sudahkah kita mulai tertib sama urusan kita sendiri?

View on Path

Cerita Shalat

Kehidupan memenuhi kepala, mendominasi dan mengaburkan diri. Lalu.. Allahu Akbar, dia yang maha akbar, tidak ada urusan yang lebih akbar darinya. Lalu aku pun tertunduk.
Sesaat semua mengabur lagi, dunia kembali menyeruak di sela-sela kerutan alam pikir, tapi kemudian.. Allahu Akbar, semua bubar, Dia nan akbar, tidak ada urusan lain yang lebih akbar dariNya dan aku pun terbungkuk di hadapanNya.
Lalu dunia pun kembali mengalir turun dari tulang yang sejajar, ah aku pun bangkit.. Segala puji untukMu.. Allahu Akbar, lalu aku pun tersungkur serendah-rendahnya.
Salam ya Rasul, salam ya alam..

Sunset di Kuta

P157

Sore ini Sang Surya agak malu-malu..
Berpamitan pun berbaju awan..

Tagged

Starting With The Man in The Mirror

Suatu hari saya mengobrol dengan seorang teman sambil melepas lelah. Seperti halnya tipikal obrolan orang Indonesia lainnya, obrolan kami pun menjurus kepada nasib negara yang carut marut ini. Tentang ketidakteraturan, pengurusan yang kacau, dan puluhan hal lain yang terlalu rumit untuk dikupas. Tak terasa waktu berlalu, hingga sayup-sayup terdengar sebuah lagu lama dari Michael Jackson.. “I’m starting with the man in the mirror
I’m asking him to change his ways
And no message could have been any clearer
If you wanna make the world a better place
Take a look at yourself and then make a change…”

Ya! Bener.. Cukup sudah ngobrolnya.. Mari bikin sesuatu mulai dari hal yang paling dekat dan paling kecil. Wisnu Wijayanto

High and Dry

 Dan mereka pun datang lagi,

berbondong menuju rumah Mu,

berdiri, menunduk, bersimpuh, menangis tersedu

mereka memujaMu wahai satu-satunya Dia..

Aku pun ingin tapi Kau tak memberiku ingin,

aku berkehendak namun Kau tak ingin aku berkehendak,

mengabdi (a’bud) tanpa bertanya,

mengikuti tanpa prasangka.. Itulah aku..

Dan mereka pun datang kembali,

tanpa sempat melihat tubuhku yang layu,

kering badanku karena merinduMu,

tak usahlah air datang jika Kau tak ingin..

Dan mereka pun pulang berlenggang,

dan aku kian terpanggang,

kering.. Lalu mati.

Begitulah kisah yang dituturkan oleh bunga kering dalam pot di samping mesjid tadi sore, puluhan orang datang silih berganti namun tidak ada yang meluangkan waktu untuk memberinya sedikit air.  Dia mati sebagai sebagai satu dari ribuan contoh yang Allah tebarkan di bumi untuk manusia, yang senantiasa berlomba untuk mengumpulkan pahala di kantongnya, mencari celah kecil untuk melarikan diri dari neraka, dan selalu mencari jalan pintas menuju surga.. Tidak peduli akan sekelilingnya dan lupa untuk berserah diri. 

Tentang Kita

Apa pendapat anda terhadap seorang anak yang durhaka? Yang nggak mau tau orang tuanya punya kemampuan seperti apa, Pokoknya ngotot minta A dan harus terpenuhi A tanpa peduli apa pun kendala yang harus dihadapi orang tuanya. Ya kurang lebih seperti itu lah sikap kita selalu. Contoh paling dekat adalah demo menentang kenaikan harga bbm yang terjadi bersamaan dengan saat saya mengetik omong kosong ini di halaman belakang rumah sambil sayup-sayup mendengar suara TV yang memberitakan kejadian di Jakarta dan Makassar.
Mungkin sebagian orang sudah mencibir saat membaca omong kosong ini sampai di sini. Silahkan 😀
Tapi pernah juga nggak anda ketemu sama orang tua yang dzalim? Yang anaknya perlu ini itu bilang nggak punya duit, sementara orang tua itu masih punya duit untuk beli rokok.. Astaghfirullah. Ada kok.. Saya pernah ketemu. Nah, begitulah kira-kira model pemerintah kita. Jadi klop bener ya? Anak durhaka yang punya orang tua dzalim 😀
Lho terus gimana? Ya timbang-timbang sendiri deh.. Kalo kata guru saya dulu anak itu mesti berlaku baik sama orang tua, bahkan untuk menolak pun caranya harus dengan cara yang sebaik-baiknya. Hubungan dengan pemimpin negara? Kata guru saya juga harus manut sama ulil amri..
Kalo yang di bawah kategorinya anak durhaka dan yang di atas orang tua dzalim, siapa yang rusak coba? Kita semua dong ya? Berarti semua harus ngaca dulu. Ada nggak yang harusnya pake pertamax tapi masih pake premium? Emang sih, kayaknya ukuran mampu dan tidak sering jadi grey area karena semua pengen ngirit :p
Ada yang bilang “gua kan punyanya motor doang, jadi kategorinya belum mampu”. Lucunya ini orang pake smartphone, punya ipad, dan lain-lain.. Oh, sangat tidak mampu :)) pasti aplikasi di ipadnya juga banyak bajakan dengan alesan nggak mampu beli aplikasi original. Ibarat ada orang punya hajat, catering udah dipesenin untuk maksimal eh tau-taunya yang makan berlipat ganda.. rugi bandaaaar :))
Eh, belum cukup dengan 2 karakter.. Ada lagi kerabat-kerabatnya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, mencari muka di tengah-tengah tangisan anak dan repotnya orang tua.
Ya gitu deh..
Akhirnya lebih baik saya kembali menikmati FCOM, FCTM, dan buku-buku lain yang belum selesai saya baca sambil berdoa mudah-mudahan sang anak nggak nakal lagi dan orang tuanya sadar.

Instant Noodle Syndrome

Jawaban-jawaban Tuhan atas doa yang kita panjatkan seringkali muncul secara instantaneously. Cuma yang susah itu adalah memahami jawaban itu secara instan pula. Kerangka berpikir yang sudah terlanjur terbentuk dalam diri kita selalu berusaha mencari proses tercepat dalam mengolah sebuah input data menjadi sebuah informasi yang digunakan dalam mempersepsi setiap kejadian, hasilnya? Hanya makna lapis pertama yang diterima. Hal ini berakibat pada aksi menjauh atau membuat kita bergerak dengan vektor yang berlawanan dengan arah yang “kita harapkan” pada awalnya. Sebagai contoh, misalnya kita adalah orang yang hidup serba kekurangan, kemudian kita berdoa agar diberikan kesejahteraan atau kekayaan, lalu Tuhan membuat kita berjumpa dengan pengemis, orang miskin, orang yang lebih susah dari kita atau kerabat yang membutuhkan bantuan kita. Dengan kerangka berpikir yang ada dengan cepat kebanyakan manusia akan berpikir bahwa “hmm, gua aja lagi susah gini.. Gimana mau bantu orang lain?”. Kita tanpa sengaja telah memberikan label “miskin” atau tidak mampu tadi kepada diri kita sendiri. Bahkan mungkin lebih rendah dari kondisi kita sebenarnya. Padahal jika diproses dengan kerangka berpikir berbeda, Tuhan baru saja memberikan rasa sejahtera pada kita. Bahwa masih ada orang yang lebih susah, bahkan kita yang katanya susah pun masih bisa membantu orang yang datang itu sesuai dengan kemampuan kita. Tuhan baru saja mengabulkan doa kita!

shattered

Glass

shattered..

one mistake and it’s shattered..

how could I?