Monthly Archives: February 2012

Instant Noodle Syndrome

Jawaban-jawaban Tuhan atas doa yang kita panjatkan seringkali muncul secara instantaneously. Cuma yang susah itu adalah memahami jawaban itu secara instan pula. Kerangka berpikir yang sudah terlanjur terbentuk dalam diri kita selalu berusaha mencari proses tercepat dalam mengolah sebuah input data menjadi sebuah informasi yang digunakan dalam mempersepsi setiap kejadian, hasilnya? Hanya makna lapis pertama yang diterima. Hal ini berakibat pada aksi menjauh atau membuat kita bergerak dengan vektor yang berlawanan dengan arah yang “kita harapkan” pada awalnya. Sebagai contoh, misalnya kita adalah orang yang hidup serba kekurangan, kemudian kita berdoa agar diberikan kesejahteraan atau kekayaan, lalu Tuhan membuat kita berjumpa dengan pengemis, orang miskin, orang yang lebih susah dari kita atau kerabat yang membutuhkan bantuan kita. Dengan kerangka berpikir yang ada dengan cepat kebanyakan manusia akan berpikir bahwa “hmm, gua aja lagi susah gini.. Gimana mau bantu orang lain?”. Kita tanpa sengaja telah memberikan label “miskin” atau tidak mampu tadi kepada diri kita sendiri. Bahkan mungkin lebih rendah dari kondisi kita sebenarnya. Padahal jika diproses dengan kerangka berpikir berbeda, Tuhan baru saja memberikan rasa sejahtera pada kita. Bahwa masih ada orang yang lebih susah, bahkan kita yang katanya susah pun masih bisa membantu orang yang datang itu sesuai dengan kemampuan kita. Tuhan baru saja mengabulkan doa kita!

Advertisements