Monthly Archives: April 2011

Pembalap Dan Kehidupan

Hidup itu seperti balapan.   Apapun yang terjadi balapan musti jalan dan sang pembalap harus sampe ke garis finish.   Kadang di tengah-tengah semangat berpacu gatal-gatal menyerang sang pembalap.  Apakah sang pembalap harus berhenti sekedar garuk-garuk?  

Go finish your race.. Garuk-garuk bisa nanti lagi.

Advertisements

Cerita Sang Pemimpi

…………. Berjalanlah, lalu temukan untuk apa kita diciptakan, dan semoga Tuhan akan membukakan tabir-Nya lalu menunjukkan makna sejati kehidupan. Amin…………

 

The_dolphin3

Pernahkah anda merasa terperangkap dalam hidup?    Pernahkah seolah-olah anda terjerat dalam siklus yang hadir dalam ruang dan waktu?  Pernahkah anda merasa kehidupan telah menghisap anda sehingga rasa bahwa kita itu hidup pun ikut menghilang dalam rutinitas, atau bahkan rutinitas itu sudah menjadi kehidupan bagi manusia.   Siklus harian seakan menjadi titah yang tak bisa dibantah.  Bangun tidur, mandi, sarapan, bekerja mencari nafkah, pulang, bersosialisasi, kadang diselingi ritual-ritual berdoa bagi yang menjalankannya dalam berbagai keyakinan, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang sudah menjadi putaran rutinitas.   Seperti itulah hidup diajarkan kepada kita, seperti itulah hidup yang kita jalani.  

Kita tidak mengenal rutinitas ini saat masih kecil bukan? Masa kecil kita penuh dengan mimpi, masa kecil kita penuh dengan pertanyaan, masa kecil kita penuh dengan pengharapan hingga tiba saatnya rutinitas datang menjemput dan kita pun kehilangan mimpi, pertanyaan, dan bahkan kehilangan arti kehidupan.

Beberapa waktu yang lalu saya dan anak-anak menonton sebuah film kartun yang berjudul “The Dolphin: Story of a Dreamer”.1   Walau animasinya tidak sehebat film-film animasi ala Pixar namun film itu telah mengingatkan kembali pada pertanyaan saya “Tuhan, untuk apa saya diciptakan?”.   Dengan banyaknya tuntutan-tuntutan, kita telah melupakan keinginan dan mimpi kita.   Kita larut dalam insting purba untuk survive.    Survival yang tadinya hanya sebatas tujuan antara, kini berubah statusnya menjadi tujuan utama, dan kita pun larut dalam pusarannya.

Daniel Alexander Dolphin adalah seekor anak lumba-lumba yang mendapat secercah kesadaran dari yang Maha Kuasa.   Dia menolak untuk larut dalam siklus survival seperti lumba-lumba lain yang merasa cukup untuk hidup dalam laguna yang aman.   Dia merasa jenuh dengan rutinitas komunitas lumba-lumba yang menghabiskan hari-hari dengan mencari dan menumpuk ikan padahal persediaan makanan mereka sudah lebih dari cukup.   Dia penat dengan jadwal tidur yang harus ditepati, larangan untuk melompati tembok karang dan menyebrang ke laut bebas, dan peraturan-peraturan lain yang sudah menjadi norma hidup bagi mayoritas lumba-lumba.    Daniel memiliki sebuah mimpi, mimpi untuk berselancar di sebuah ombak yang tinggi.   Bagi dirinya mimpi itu adalah tujuan hidupnya, mimpi itu adalah sebuah arti yang menjelaskan untuk apa dirinya lahir ke dunia.   Dan diapun memutuskan untuk meninggalkan laguna demi mengejar mimpinya.

 

 “… someone who listen to the voice of his heart, instead of the voice of the crowds…”

 

Dia rela untuk dibuang dari komunitas demi mengejar mimpinya, demi mencari makna sejati kehidupan, demi menuntaskan dharmanya di dunia.

Dalam pencariannya, Daniel menemukan berbagai macam peristiwa yang menjadi cobaan sekaligus petunjuk bagi perjalanannya, saya tidak akan bahas peristiwa-peristiwa itu saat ini.   Mungkin di lain kesempatan akan dibahas di tulisan yang lain.

Garis besar perjalanan Daniel adalah gambaran kehidupan manusia di dunia.   Manusia hadir dalam bentuk yang suci waktu masih bayi.   Di dalam diri-diri yang suci ini terkandung sebuah tugas a harus dipenuhi dalam kehidupan, sebuah peranan, sebuah dharma.   Namun dengan hingar-bingarnya alam kehidupan, manusia melupakan ini semua hingga banyak yang menutup mata di akhir hayatnya tanpa sempat mengetahui makna sejati dari kehidupan.   Sungguh kita dalam keadaan yang merugi jika hidup dalam kehidupan yang hanya merupakan sebuah rantai survival yang sambung-menyambung. 

Don’t get so caught up in surviving, that you forget to live! –Brent Atwater-2

  Tanpa kita sadari, kehidupan telah mengubah kita menjadi zombie.   Kita tidak lebih dari sebuah robot yang mengabdi pada jasad kita sendiri.   Kita bekerja demi kelangsungan hidup kita, kita menjaga citra diri di depan orang supaya terlihat bagus, dan kita mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang supaya aman.   Dengan begitu, kita semakin jauh dari diri sejati kita.   Bahkan boleh dibilang, kita sudah tidak mengenal diri kita sendiri.

  Berjalanlah, lalu temukan untuk apa kita diciptakan, dan semoga Tuhan akan membukakan tabir-Nya lalu menunjukkan makna sejati kehidupan. Amin.

 

 

Catatan:

1.             The Dolphin: Story of a Dreamer, adalah sebuah film animasi yang diangkat dari novel karangan Sergio Bambaren.   Website Sergio Bambaren dapat dilihat pada alamat http://www.sergiobambaren.com/

2.             Brent Atwater adalah seorang penulis, seniman, sekaligus pelopor metode penyembuhan alternatif yang telah menulis berbagai macam buku serta menggagas beberapa metode penyembuhan bagi penyakit-penyakit seperti kanker.   Profil dari Brent Atwater dapat dilihat di http://ezinearticles.com/?expert=Brent_Atwater

 

 

Tagged ,

Introspeksi

A : aku nggak suka sama orang yang kalo makan ngunyahnya bunyi.

B: (tertawa)

A: Lho jangan ketawa, ya kamu itu yang ngunyahnya bunyi.

B: wah, justru aku ketawa karena kamu ngomong gitu sementara kamu sendiri ngunyahnya bunyi.

Tagged

Family

Family_guy-1119

“A family is a place where minds come in contact with one another. If these minds love one another the home will be as beautiful as a flower garden. But if these minds get out of harmony with one another it is like a storm that plays havoc with the garden” [Buddha]