Monthly Archives: February 2011

sebelum kau menjadi pelukis, ijinkan aku melukis dirimu nak.. mewarnaimu selagi putih kanvasmu..

Media_https1i1picplzt_qsnfo

Taken with picplz.

Advertisements

Sahabat

Img-20101219-00054

Sahabat itu datang dan tidak pergi..
Sahabat berjalan bersama walau tujuan berbeda..
Sahabat tersenyum walau marah..
Sahabat mengingatkan di kala salah..
Sahabat adalah sahabat..

Belajar Dari Pohon Pisang

– M. R. Bawa Muhaiyaddeen
Come to the Secret Garden: Sufi Tales of Wisdom 

Artikel asli dalam bahasa Inggris dapat dilihat di sini

Diterjemahkan dengan tambahan seperlunya oleh Wisnu Wijayanto

Anak-anak dan cucu-cucuku yang kucintai.. Mari kita amati pohon pisang ini.   Bentuknya mirip sebuah tangan bukan?  Perhatikan bagaimana daun-daunnya menjuntai bagaikan jemari tangan.   Tahukah kalian bagaimana sebuah pohon pisang itu bertumbuh kembang?   Ketika sebuah bakal pohon tumbuh dari pohon induk, yang paling pertama muncul adalah sebuah daun, kemudian daun itu memanjang lalu melengkung ke bawah dan dilanjutkan dengan tumbuhnya daun-daun yang lain.    Daun-daun pisang tumbuh silih berganti, satu demi satu, hingga delapan, sembilan, sepuluh, dan daun-daun berikutnya akan tumbuh dengan cara ini.   Dan seraya terus bertumbuh dari satu titik awal, mereka semakin dekat dan semakin dekat, saling tumpuk bagaikan berlembar-lembar kertas yang dilem menjadi satu.   Betapa hebat persatuan dan simetri yang dimiliki oleh daun-daun ini.

 

B-A-N-A-N-A-S


Buah pisang juga tumbuh berkelompok, bermula dari hanya sebuah batang lalu berkembang menjadi setandan pisang.  Mereka hidup dalam satu kesatuan, berbagi makanan yang sama, memiliki cita rasa yang sama, serta memiliki warna yang sama.   Mereka bersatu hingga akhirnya kitalah yang memisahkan, mengambilnya satu demi satu.   Mari kita renungkan hal ini.

 

Cucu-cucuku, seluruh ciptaan Tuhan itu seperti sebuah pohon pisang.   Tuhan menciptakan Adam dan Hawa dari satu permulaan, lalu dari satu permulaan ini berkembang menjadi dua puluh satu pasang anak kembar atau empat puluh dua anak.   Mereka memiliki satu ibu, satu ayah, satu keluarga, dan satu Tuhan.   Pada awalnya mereka adalah satu kesatuan, namun selanjutnya terpencar menjadi berbagai macam agama, ras, status sosial kemasyarakatan, dan masih banyak lagi perbedaan yang terbentuk di kemudian hari.

Seluruh umat manusia berasal dari satu permulaan.   Mereka diciptakan oleh satu Tuhan yang merupakan satu-satunya sumber kebenaran.   Tuhan telah mengatakan bahwa walaupun kita berbeda-beda namun kita semua adalah bagian dari satu hal yang sama.    Tidak peduli apapun perbedaan yang terlihat di luar, kita semua adalah satu.   Kita semua adalah satu.

Ketika kita dapat mengerti ini dengan bijak, maka segala perbedaan, pembunuhan, dan dosa akan lenyap dari kita.  Kita akan hidup dalam persatuan. Anak-anakku, melalui sebuah pohon  pisang, Tuhan telah menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah persatuan itu seharusnya.   Aku mencintai kalian semua… Anbu1..

 

Catatan:

1.             Anbu, adalah sebuah panggilan dari bahasa Tamil yang berarti “cinta”.

 

 

Tagged

Sanggupkah Engkau Mengetahui Sebuah Rahasia Saja?

 

Alam semesta penuh dengan rahasia.   Bahkan proses penciptaannya pun masih menjadi rahasia, berbagai teori tentang penciptaan alam muncul silih berganti mulai dari Sir Isaac Newton hingga Stephen Hawking;  Mulai dari teori yang beranjak dari logika empiris, fisika, hingga metafisika;  Mulai dari yang melibatkan Tuhan sebagai prima causa hingga teori yang menyingkirkan keterlibatan Tuhan dalam proses terjadinya alam semesta;  apapun teorinya, hingga kini alasan penciptaannya pun penuh dengan rahasia.   Bahkan penciptaan manusia sebagai salah satu penghuni alam semesta pun merupakan rahasia yang pada awalnya dipertanyakan oleh para malaikat.  

Tapi Tuhan hanya menjawab “….Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…” (QS 2:30).

Apakah Tuhan begitu pelit sehingga begitu banyak rahasia tetap terkunci simpulnya hingga berjuta-juta tahun? Sesungguhnya ada makhluk-makhluk yang dipilih oleh-Nya untuk mengetahui sebagian dari rahasia-rahasia alam semesta.   Kenapa tidak semuanya mengetahui sehingga semua dapat mempercayai? Beriman karena mengetahui?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan: “Sanggupkah?”.

Salah satu rahasia alam adalah masa depan.   Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.   Adanya ruang dan waktu telah menciptakan kabut antar kejadian sehingga setiap kejadian terfragmentasi sedemikian rupa.   Kembali kepada pertanyaan kesanggupan manusia untuk menerima rahasia, sanggupkah kita menerima salah satu rahasia-Nya?

Maha Suci Tuhan yang Maha Mengetahui segalanya.   Mari kita mengambil sebagian kecil dari rahmat-Nya yang tak terhingga untuk sama-sama merenungi hal ini.   Salah satu ayat dari Surah Al-Baqarah yang menyimpan banyak rahasia alam semesta,

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS 2:261) 

Tuhan berjanji secara langsung akan melipatgandakan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Tuhan.   Cara menafkahkan harta di jalan-Nya bisa bermacam-macam, bisa dengan memberikan sedekah, menyantuni anak yatim, membantu orang yang kesusahan, dan lain sebagainya.  

Kira-kira hubungan antara sedekah dan rahasia Tuhan itu bagaimana ya?.   Setiap perintah Tuhan yang disampaikan melalui wahyu-Nya adalah sebuah pembelajaran dari Tuhan,  bahkan di ayat tersebut Tuhan ingin mengajarkan arti kesanggupan menerima rahasia.   Tuhan mengajak kita untuk menafkahkan harta di jalan-Nya, sebagai imbalannya adalah kita akan mendapat balasan yang berlipat di masa depan.   Suatu tawaran berbuat dengan imbalan setelahnya adalah suatu hal yang gampang untuk diikuti.  Tapi bagaimana jika hal itu dibalik menjadi yang terjadi “setelah” terjadi duluan?  Misalnya kita mendapat rejeki yang berlimpah, ingatkah manusia akan pasangan kejadiannya?   Berapa banyak yang ingat akan sedekah setelah mendapatkan sesuatu?.

 

Masa_depan2

 

Inilah yang disebut dengan ketidaksanggupan manusia dalam menerima rahasia.   Manusia pada umumnya tidak memiliki kemampuan untuk berfikir dengan logika terbalik.   Manusia sangat terikat dengan logika yang berupa persetujuan bersama sebagai tolok ukur kebenaran.   Ketika sebab menyebatkan akibat, tidakkah terpikirkan bahwa akibat membutuhkan sebab?

Saya tidak mengajak untuk memperdebatkan konsep logika karena saya bukan ahlinya.  Namun ingat bahwa ruang dan waktu hanya sebuah komponen yang mengikat alam agar tidak tercerai-berai.  Hukum ruang dan waktu tidak berlaku bagi Tuhan.   Seperti halnya pengarang buku yang mengikat tokoh-tokoh dalam bukunya dengan ruang dan waktu namun bagi sang pengarang, semua kejadian terjilid dalam satu buku dan dia tidak terikat dalam cerita tersebut.  Tanpa ruang dan waktu maka sebab dan akibat bisa terjadi tanpa urutan.   Cukup sebagai pasangan, karena semua diciptakan berpasang-pasangan.

 

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (QS 51:49). 

 

 Jadi, jika rahasia itu diberikan pada manusia sebelum terjadi, mampukah manusia bertanggung jawab? 🙂

Sanggupkah engkau menerima rahasia-Nya?

Wallahu a’lam bish-shawab

 

————————————————————————————————————

PS:  Saya tidak berusaha menafsirkan apa-apa karena saya sendiri bukan Mufassir.

————————————————————————————————————

 

Tagged

Al-Qur’an, Hanya Untuk Kebaikan..

Al-Qur'an

 

 Bismillahhir-Rahmanir-Rahim, dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi Kasih, Segala Puja dan Puji bagi-Nya, yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan kasih sayang yang tak terhingga, yang memberikan kita pahala yang berlimpah.   As-salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu…

Tuhan telah memberikan kita harta yang tak terhingga kepada kita dalam kehidupan.   Baik di dunia awwal (awal masa penciptaan), dunya (dunia yang kita hidup di salamnya saat ini), serta akhirah (dunia setelah kehidupan).   Dia telah menciptakan Adam, kemudian alam semesta, dan Dia telah menjelaskan tentang akhirat.   Kita, para anak Adam, harus menyadari hal ini.

Kita terlahir sebagai satu keluarga.   Dimanapun kita berada, baik di timur, barat, utara, maupun selatan, seluruh umat manusia adalah satu.   Tuhan atau Allah adalah satu.  Tuhan mewartakan ajarannya kepada manusia melalui para utusannya.  Dari seluruh utusannya itu, terpilih lah dua puluh lima nabi untuk dikenal oleh kita semua, dan dari yang dua puluh lima terpilih lah delapan yang memiliki tingkat kejernihan tertinggi: Adam, Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Ismail (Ishmael), Musa (Moses), Daud (David), Isa (Jesus), dan Muhammad.   Melalu kedelapan rasul ini Tuhan menurunkan segala rahasiaNya kepada umat manusia.  Dan akhirnya, seluruh ajaran dan aturan yang telah diturunkan sejak masa penciptaan hingga Rasulullah Muhammad Saw dikumpulkan dalam sebuah kitab yang kita kenal dengan Al-Quran.

Kita harus mampu untuk melihat Al-Quran dengan dua sudut pandang yang berbeda.   Ada yang dinamakan khair (kebaikan) dan sharr (keburukan), dzat (esensi) dan sifat (manifestasi), serta halal dan haram.   Satu sisi hadir sebagai hukum dan kebaikan Tuhan, sementara sisi yang lain hadir sebagai bagian dari kegelapan.

Dengan ini, kita selaku anak cucu Adam harus menyadari bahwa kita wajib mengesampingkan segala bentuk keburukan dan hanya bertindak atas dasar kebaikan.  Itulah hukum kebenaran.   Kita harus mengesampingkan keburukan.  Kita tidak perlu menyerang siapa/apapun.

Islam datang sebagai kemurnian sempurna yang dibawa oleh Al-Quran.  Islam adalah persatuan kesaudaraan.   Islam menyatukan seluruh umat manusia layaknya saudara kandung yang tersebar di keempat penjuru mata angin.   Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melihat kebaikan dan menjauhi keburukan.   Itulah hukum keadilan,   Al-Qur’an mengajarkan kesabaran, ketabahan, rasa syukur, pasrah kepada kehendak Tuhan, dan memanjatkan segala puji bagi Tuhan.  Kita sebagai anak cucu Adam harus memahami hal ini.

Al-Qur’an dan tafsirnya memiliki makna yang sangat dalam.   Oleh karena itu, kita anak cucu Adam tidak boleh menggunakannya sebagai pembenaran atas hal-hal yang sepele.  Janganlah mengutip ayat Al-Qur’an hanya untuk memulai peperangan, perkelahian dan perselisihan, menumpahkan kemarahan kepada orang lain, atau hanya untuk pencapaian duniawi.    Sesungguhnya dunia ini termasuk dalam perkara yang  sharr, buruk, dan harus diabaikan.   Kebalikannya, seluruh perkara yang khair, kebaikan , harus diterima dan direalisasikan dalam tindakan-tindakan yang nyata.   Al-Qur’an seharusnya digunakan hanya untuk kebaikan.   Al-Qur’an mengutamakan persaudaraan dan persatuan, bukan perpecahan dan diskriminasi.   Al-Qur’an melegakan hati orang yang sedang dalam kesedihan.  Ia dapat menjadi pelipur lara bagi mereka yang tengah menderita dan membuat mereka tersenyum.   Ia memberikan kenyaman dan perlindungan pada mereka yang sedang sakit.   Ia menerangkan kekayaan Tuhan kepada orang-orang miskin.   Ia memberikan kedamaian kepada orang yang terguncang jiwanya. Ia memberikan kebijakan kepada mereka yang tidak memiliki kebijakan.   Ia membawa iman ke dalam hati yang tidak beriman dan membuat mereka menyembah Tuhan.   Yang disebut Al-Qur’an dalam dunia nyata adalah sesuatu yang memiliki nilai luhur dan makna yang sangat dalam.

Makna sejati dari Islam dan Al-Qur’an sangatlah berbeda dari yang dipahami oleh orang-orang pada saat ini di tengah-tengah maraknya perkelahian dan perselisihan.   Orang-orang menggunakan Al-Qur’an sebagai spanduk pembenaran atas peperangan mereka.  Ini tidak benar.   Al-Qur’an telah menyisihkan keburukan dan menunjukkan kepada kita kebaikan.   Makna sejati dari Islam dan Al-Qur’an adalah tawakkul-‘alallah — berserah diri kepada Tuhan–, dan mengucapkan alhamdulillah dalam setiap nafas, memberikan seluruh pujian hanya kepada Tuhan.

Betapapun besarnya lautan samudera, ia tak kan pernah dapat memuaskan dahaga kita.   Tapi sebuah kolam air, sekecil apapun kolam itu, ia akan sangat bermanfaat bagi banyak makhluk hidup, baik untuk memuaskan dahaga atau hanya melepaskan lelah.   Seperti halnya kolam, Al-Qur’an membawa rahmat bagi seluruh makhluk.    Mulai dari pelepas lelah, penghilang lapar, dan pembersih kotoran yang melekat.   Inilah arti sesungguhnya dari Al-Qur’an dan Islam.   Ketika engkau mengutip sesuatu dari Al-Qur’an, kata-kata yang engkau kutip haruslah menunjukkan kedamaian dan kesetaraan derajat.   Ketika engkau mengatakan “Islam”, engkau harus menunjukkan kesabaran, kesetaraan, dan kedamaian.   Ketika engkau menunjukkan suatu kebaikan, tunjukkan bahwa kebaikan itu merujuk pada Islam, namun jika engkau menunjukkan suatu kejahatan, tunjukkan bahwa kejahatan itu adalah sesuatu yang telah disingkirkan oleh Al-Qur’an.

Seluruh harta, kerajaan, dan penghargaan yang ada di dunia ini adalah sharr dan telah disingkirkan dari Al-Qur’an.   Segala peperangan dan perkelahian untuk keuntungan di dunia, pembalasan dendam, pengkhianatan, kebohongan demi kepentingan dunia, memakan makanan haram, serta pendustaan demi penghargaan dan jabatan tidak dapat disebut dengan Islam.   Engkau tidak dapat mengutip Al-Qur’an untuk hal-hal itu, karena semua itu berlawanan dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa kita semua adalah saudara, kita hidup dalam persatuan dan makan dari piring yang sama dalam kesatuan.   Al-Qur’an menunjukan bahwa kita semua bersaudara dan hidup berdampingan dengan harmonis, seperti halnya ketika kita berada di dalam Gereja atau Mesjid, dimana seorang raja dan pengemis adalah sama derajatnya di hadapan Tuhan.   Ia menunjukkan persaudaraan dimana kita saling mengasihi satu sama lain, baik itu dalam rumah ibadah maupun di rumah.   Jika ada dua orang berselisih pada suatu waktu, maka kala mereka bertemu muka kembali di lain waktu, mereka akan saling memaafkan.   Al-Qur’an dan Islam memerintahkan kita untuk memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan kita, menahan amarah kita, dan saling mengasihi.

Ini adalah penjelasan dari hukum yang tertuang dalam Al-Qur’an mulai dari awal penciptaan hingga kini.   Kebohongan, dendam, kejahatan, iri dengki, dan pembunuhan tidak boleh dilakukan dalam nama Islam.   Islam adalah sebuah persatuan persaudaraan, toleransi, dan perdamaian.   Islam hadir untuk memurnikan hati kita dengan bagaikan air penyejuk dari kalimat Rasulullah SAW,  serta membasuh kegelapan dan menciptakan kedamaian.

Namun ada orang-orang yang mengacungkan Al-Al-Qur’an dengan kemarahan, iri dengki, dan keegoisan.   Mereka menggunakan Al-Qur’an dan Islam demi keuntungan dan penghargaan pribadi.   Al-Qur’an tidak bisa dijadikan pembenaran untuk hal seperti ini, Al-Al-Qur’an hanya boleh digunakan untuk kebenaran.    Kemarahan, pengkhianatan, kebohongan, diskriminasi, perpecahan, dan seluruh hal-hal yang tidak baik telah dihilangkan dari Al-Qur’an, dan harus dihilangkan dari diri manusia juga.   Manusia harus mengambil yang khair dan menjauhi yang sharr.   Dengan begitu Al-Qur’an telah digunakan untuk menunjukkan kebaikan dan memerangi keburukan, inilah Islam sesungguhnya.  Tidaklah dibenarkan untuk mengucapkan Al-Qur’an dan Islam sebagai pembenaran atas hal-hal yang bersifat sepele.   Islam memiliki makna persatuan, persaudaraan, dan harmoni.   Ia tidak melihat perbedaan di antara manusia, melainkan perdamaian dan harmoni pada seluruh makhluk hidup. Inilah Islam.  Inilah Al-Qur’an.  Seluruh anak cucu Adam haruslah menyadari hal ini.

Kalimat-kalimat dalam Al-Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat suci dari Allah.   Jika kita mengambil bagian dari Al-Qur’an, meski hanya sebesar atom, kita akan menemukan makna yang tak terhitung, di luar pemahaman kita.   Jika kita mengambil sebuah atom tersebut lalu membaginya menjadi sepuluh juta bagian dan mengambil sebuah bagiannya, maka kita akan menemukan sembilan puluh sembilan partikel yang berputar tanpa bersinggungan antara satu sama lain.   Jika satu bagian dari sembilan puluh sembilan bagian itu dibagi menjadi lima ratus ribu bagian, maka setiap bagian akan menunjukkan sembilan puluh sembilan bagian yang berkeliling dalam orbit tanpa bersinggungan satu sama lain.   Dengan mengamati ini, kita akan menemukan makna yang semakin dalam, dan kekuatan yang akan bertambah dan bertambah.

Kesembilan puluh sembilan bagian tersebut adalah asma’ul husna, nama-nama baik dari Allah.   Allah memiliki tiga ribu atribut dan sembilan puluh sembilan wilayat atau kekuatan.   Seluruhnya dalam bentuk atom dan setiap partikel memiliki qudrat atau kekuatan dari Allah.   Segala sesuatu bergerak atas dasar kekuatan dari Nya.   Kita sebagai umat Islam harus menyadari ini.   Ini adalah Al-Qur’an. Ini adalah wilayat-Nya.

Seseorang yang menyebut dirinya Islam tidak akan pernah menyakiti orang lain, berbalas dendam, atau saling berkhianat.   Umat Islam harus menyadari hal ini.   Nama Islam memiliki makna yang amat dalam dan berada di luar perkiraan kita.   Islam tak dapat dijadikan alasan untuk kepalsuan, perampokan, atau pembunuhan.   Islam adalah persatuan persaudaraan yang dapat mengakomodasi seluruh dunia.   Inilah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw.   Seluruh benda di alam semesta beserta seluruh ciptaan Allah tercakup oleh Al-Al-Qur’an.   Namun jika kita gagal dalam memahami Al-Qur’an, kita hanya akan mengutip Al-Qur’an dan menjadikannya pembenaran bagi hal-hal yang sepele, demi kepentingan pribadi.

Kita yang ada di dunia harus menyadari bahwa Al-Qur’an adalah hukum kebenaran yang hakiki, yang diturunkan untuk menunjukkan persatuan dalam persaudaraan, untuk membawa kedamaian dalam hidup, untuk memaafkan segala kesalahan, mengajarkan kesabaran dan kasih sayang serta membawa rasa nyaman bagi seluruh kehidupan.   Kita harus memiliki sabur, shakur, tawakkul, dan alhamdulillah.   Inilah Al-Qur’an dan Islam.   Saudara-saudariku yang beriman hendaknya menyadari hal ini. Amin. Amin.


Sebuah Nasehat dari M. R. Bawa Muhaiyaddeen, seorang Guru asal Srilanka yang lalu menetap di US hingga akhir hayatnya. 

Diterjemahkan secara bebas oleh Wisnu Wijayanto dari : 

Use Qur’an only For What is Good 

Tagged

Agama Saya adalah Cinta

Oleh Sahabat Nanang Setyo on Wednesday, February 9, 2011 at 12:26pm

 

 

 

 

Paradoks, mungkin kata inilah yang agak tepat untuk mewakili beragam kejadian yang menunjukkan kecenderungan kekinian dalam kehidupan. Beragam paradoks yang mungkin sering ditemukan dalam kehidupan, salah satunya adalah paradoks dalam hal berkeyakinan dengan bingkai agama. Sedikit harapan terselip pada tulisan ini, mudah-mudahan para sahabat  bisa mendapat tambahan literatur pembanding tentang betapa beranekaragamnya bentuk keyakinan, agama, spiritual, yang pada akhirnya diharapkan bisa lebih arif dan bijak dalam menyikapi segala macam bentuk perbedaan. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru yang semakin memperlebar perbedaan. Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah beberapa peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia (Bali, Ambon dan Poso), India, Tibet, sampai Timur Tengah.

 

Bali, siapa yang tidak mengenalnya? bahkan manca negara lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia sendiri. Bali, dengan ribuan pura sangatlah terkenal dengan keindahan, kedamaian serta keramahan alam dan warganya. Namun, siapa sangka jika di Bali ternyata juga pernah terjadi peristiwa yang mengakibatkan ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris pernah diledakkan orang-orang dengan identitas tertentu sehingga memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999.

Ambon dan Poso, sebelum terjadi peristiwa konflik horizontal dengan latar belakang agama merupakan dua kota di Indonesia yang merupakan iconkerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Namun, justru ditempat yang merupakan icon inilah pernah terjadi konflik dengan korban nyawa yang tidak sedikit.

India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan, mulai dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, Osho, Ramana Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun, di beberapa bagian belahan India ternyata juga tumbuh subur benih  kebencian yang memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas dan sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat.

Tibet yang terkenal dengan sebutan Istana Atap Langit adalah atap dunia yang banyak melahirkan karya sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga terdapat bentuk kesedihan yang sudah berumur teramat panjang. Mulai dari pengasingan pemimpin spiritual Tibet yakni Dalai Lama  selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan.

Timur Tengah nasibnya tidak jauh berbeda. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin perang menyalak terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan.

Bertitik tolak dari beragam fenomena yang merupakan paradoks di atas, maka secara totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt (pengusung teori paradoks) pernah membaca sebuah kecenderungan yang sudah mendunia yakni: ’religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya. Pemahaman ini merupakan bentuk koreksi terhadap keberadaan agama, yang ternyata belum mampu menciptakan kedamaian, hidup saling berdampingan diatas segala macam perbedaan dan bahkan cenderung mengarah bahwa agama merupakan bagian dari sumber perpecahan itu sendiri. Hal senada dapat di simak dari pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, ternyata dalam praktek kehidupan di keseharian, mahasiswa-mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat, mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua. Karenanya hal itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? dan apa yang terjadi pada mereka yang sudah mengaku beragama namun belum bisa menampilkan pola perilaku menyejukkan yang justru malah bisa ditampilkan oleh mereka yang mengaku tidak beragama?. Pengalaman lain menunjukkan bahwa terdapat sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika ditanya tentang keyakinannya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, jika tuan rumah lupa menyilahkan mereka untuk duduk, mereka kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ’maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.

Belakangan, ungkapan-ungkapan beberapa sahabat mulai memberikan nuansa pemahaman baru bahwa ternyata  spiritual dan agama tidak berbanding lurus dan diantara mereka tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. Dengan arti lain, individu yang beragama belum tentu secara otomatis memiliki tingkat spiritual yang mumpuni, pun juga sebaliknya individu yang tidak beragama belum tentu tidak memiliki tingkat spiritual mumpuni. Hal ini lah yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai menyarankan perlunya pergeseran pemahaman yakni dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan bahwa jika seorang individu belajar tentang Buddha lengkap dengan welas asihnya tentunya hal itu merupakan suatu hal yang baik, membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentunya berguna, kagum terhadap doa Santo Fransiscus dari Asisi tentunya bermakna, jatuh cinta kepada Bhagawad Gita tentunya merupakan sebuah proses pertumbuhan jiwa, atau dengan mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja sangat bermanfaat. Namun, hal yang paling penting setelah proses mempelajari apa pun bentuk pengetahuan spiritual di atas adalah mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian yang tentunya memerlukan upaya  jauh lebih keras lagi. Dalam hal pencapain spiritual ini, banyak guru yang sepakat, bahwa jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti halnya dengan menemukan keseimbangan pada saat belajar bersepeda, hanya latihan keseimbangan itu dapat dicapai. Sedangkan waktu serta tempat untuk latihan sudah tersedia di mana-mana secara berlimpah : di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ’keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’. Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua, menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh adalah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan. Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di wajahnya, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan yang senada dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. Dalai Lama dan sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan: ’Agama saya adalah Cinta’

 

artikel asli dapat dilihat di : http://www.facebook.com/notes/nanang-setyo/agama-saya-adalah-cinta/10150090468798171

Tagged

Aku Juga Bahagia Nak.. :)

Hari ini anak-anak minta untuk dianter ke tukang cukur. Dari mulai bangun pagi semua udah pada heboh minta berangkat, padahal tukang cukur aja baru buka jam 9. Yang bikin seru adalah permintaan model cukurnya. Si kakak mau cukur botak di atas dan panjang di bawah, adek nggak mau kalah minta plontos. Sebenernya saya lebih suka kalo anak-anak tetep dengan model cukuran saat ini, udah pas dan ganteng. Cuma masak iya saya mau memaksakan keinginan saya dan mematahkan kreativitas anak-anak dengan paksa? Toh mereka belum bersekolah dan tidak terikat dengan peraturan model cukuran tertentu.

Hal yang sering dilupakan oleh para orang tua adalah sebuah tugas sederhana, yaitu: “ikut bahagia bersama anak”. Orang tua sering sibuk untuk membahagiakan anak dengan membuat pilihan-pilihan tertentu dalam rangka membahagiakan anak. Nyatanya, pilihan itu belum tentu mambahagiakan si anak. Orang tua lupa bahwa kadang anak sudah menentukan apa yang membuatnya bahagia. Selama itu tidak bertentangan dengan norma-norma, kaidah agama, atau apapun lah.. Kenapa tidak ikut berbahagia saja dengan pilihan anaknya?

Insya Allah dengan ikut berbahagia sudah menjadi dukungan dan menambah tingkat kepercayaan diri anak dalam hidup. Ingat bahwa kita tidak akan selamanya ada bersama mereka untuk ikut menentukan pilihan. Jika mereka harus menentukan pilihan namun bekal kepercayaan dirinya kurang, bisa dibayangkan betapa kesusahannya nanti.

Waktu mereka untuk membahagiakan amatlah sedikit, siapa yang bisa mengurai takdir dan mengetahui apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan? Maka saat mereka bahagia, mari kita berbahagia bersama mereka. Daripada menuntut mereka untuk membahagiakan kita terus, berikanlah kesempatan mereka untuk membuat kita bahagia.. Cukup dengan ikut berbahagia.

Maka jawaban saya tadi pagi cukuplah sebuah kalimat: “silahkan nak, ayah suka kok cukuran model gitu”.

Tagged