Monthly Archives: January 2011

Untuk Kita Renungkan -Ebiet G. Ade-

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih

Suci lahir dan di dalam batin

Tengoklah ke dalam sebelum bicara

Singkirkan debu yang masih melekat..

 

Singkirkan debu yang masih melekat..

 

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya

Kita mesti tabah menjalani

Hanya cambuk kecil agar kita sadar

Adalah Dia di atas segalanya..

 

Adalah Dia di atas segalanya..

 

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar

Lahar dan badai menyapu bersih

Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat

Bahwa kita mesti banyak berbenah

 

Memang, bila kita kaji lebih jauh

Dalam kekalutan, masih banyak tangan

Yang tega berbuat nista… oh

Tuhan pasti telah memperhitungkan

Amal dan dosa yang kita perbuat

Kemanakah lagi kita kan sembunyi

Hanya kepadaNya kita kembali

Tak ada yang bakal bisa menjawab

Mari, hanya tunduk sujud padaNya

 

hooo…hooo

hooo

 

Kita mesti berjuang memerangi diri

Bercermin dan banyaklah bercermin

Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini

Berusahalah agar Dia tersenyum… ho..

du..du…du..du..du..

du..du..du..du..oh…

ho…ho…ho…

du..du..du..du..

Berubahlah agar Dia tersenyum

Advertisements
Tagged ,

Time to Exhale

Ternyata saya nggak sadar kalo selama ini pola hidup saya adalah “inhale, inhale, and inhale”. Hirup semua, hirup sedalam-dalamnya, bahkan bolehh dibilang hirup sampai mampus. Sampai-sampai saya lupa kalau semua yang saya hirup telah membuat saya kepenuhan lalu hidup membawa beban yang tidak diinginkan, namun tidak ada tempat tersisa untuk hal-hal positif yang baru.

It’s time to exhale.. Let go..
Melepas beban yang tak perlu.

Tagged

189 Juta Detik Yang Lalu

Untuk mengetahui tepatnya susah karena detik terus bergulir, namun kira-kira 189 juta detik yang lalu cinta itu bermula.   Tempatnya bukan tempat yang romantis, apalagi berbicara detail suasana, pakaian, dan lainnya.   Jika harus jujur, saya tidak ingat hal-hal kecil yang mengantar berseminya hati.   Yang saya ingat hanya reaksi kimia di tubuh saya saat berdekatan dengannya.   Sebuah reaksi yang menyulut badai listrik instan, sebuah percikan yang terbakar menjadi api.   Andai saya boleh menganalogikan dengan pembakaran di mesin, maka ini adalah pembakaran sempurna tanpa sisa-sisa pembakaran.  Tanpa syarat, perjanjian, atau apapun, untuk pertama kalinya dalam hidup saya menyerah pada cinta.   Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengusir logika yang sudah menjadi teman akrab selama lebih dari seperempat abad.  Untuk pertama kalinya saya mengkudeta semua prioritas hidup.

189 juta detik lalu itulah awal dan akhir api ini… Insya Allah.

 

* detik secara real dapat dilihat di bawah

 

 

Tagged

189 Juta Detik Yang Lalu

Untuk mengetahui tepatnya susah karena detik terus bergulir, namun kira-kira 189 juta detik yang lalu cinta itu bermula.   Tempatnya bukan tempat yang romantis, apalagi berbicara detail suasana, pakaian, dan lainnya.   Jika harus jujur, saya tidak ingat hal-hal kecil yang mengantar berseminya hati.   Yang saya ingat hanya reaksi kimia di tubuh saya saat berdekatan dengannya.   Sebuah reaksi yang menyulut badai listrik instan, sebuah percikan yang terbakar menjadi api.   Andai saya boleh menganalogikan dengan pembakaran di mesin, maka ini adalah pembakaran sempurna tanpa sisa-sisa pembakaran.  Tanpa syarat, perjanjian, atau apapun, untuk pertama kalinya dalam hidup saya menyerah pada cinta.   Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mengusir logika yang sudah menjadi teman akrab selama lebih dari seperempat abad.  Untuk pertama kalinya saya mengkudeta semua prioritas hidup.

189 juta detik lalu itulah awal dan akhir api ini… Insya Allah.

 

* detik secara real dapat dilihat di bawah